BUDAYA ORGANISASI ETIS: PERLU DILATIH?

Posted by Sikap Mental Positif on Rabu, 07 Mei 2014

Beberapa saat lalu, seorang klien bertanya pada saya: Apakah perlu pelatihan etika di perusahaan? Ya, sebuah pertanyaan sederhana, mungkin tidak terlalu sulit menjawabnya, namun sangat sulit dalam realisasinya.
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kisa simak dua cerita dari dua organisasi berbeda di dunia, yaitu Enron Corp., dan Johnson & Johnson:
 
- Enron Corp., yang pada Desember 2001 menimbulkan kepailitan terbesar di AS, tidak hanya gagal karena praktek akuntansi yang tidak tepat (walaupun hal itu merupakan penyebab terbesar), tetapi juga gagal karena memiliki budaya yang mendorong eksekutif ke dalam perilaku tidak etis.
 
Selama masa keemasan Enron di akhir 1990-an, pers selalu memuji perusahaan tersebut karena budaya wirausahanya, seperti: Cerdas, vokal, kreatif dan berani mengambil resiko. Namun analisis setelah pailit menyingkapkan adanya budaya yang berbeda -yaitu tekanan terus menerus untuk pertumbuhan pendapatan. Jadi, bukannya memberi imbalan atas gagasan baru, perusahaan mendorong corner-cutting (jalan pintas) yang tidak etis. Caranya?
 
Pertama, mereka menekan karyawan untuk selalu meningkatkan penghasilan.
 
Kedua, mereka menekankan kontrol yang longgar untuk atas ’cara’ menciptakan penghasilan tersebut.
 
Ketiga, mereka memelihara budaya ’yesman’ di kalangan eksekutif. Jadi orang takut membicarakan praktek-praktek ’yang patut dipertanyakan’, karena takut bahwa itu semua akan mempengaruhi kenerja dan bonus mereka.
 
Keempat, mereka menempatkan bahwa bonus dan uang adalah segala-galanya. Perusahaan mencari dan memberi imbalan besar orang yang sangat mementingkan uang. Sehingga Jeff Skilling, CEO yang menciptakan budaya ’in your face’ di Enron, dikutip mengatakan, ”Semua masalahnya adalah uang. Anda dapat membeli loyalitas dengan uang.”
 
Kelima, mereka memeringkat kinerja tim berdasarkan karyawan bintang, bukan berdasarkan kerja tim dan nilai budaya dari tim tersebut. Akhirnya, perusahaan terus menetapkan sendiri harapan yang sangat optimistik atas pertumbuhannya dan terus mendorong eksekutif menemukan segala cara untuk mencapainya. Seorang karyawan dalam mengatakan, ”Anda sudah tahu bahwa seseorang di pucuk pimpinan mengatakan bahwa harga saham adalah yang paling penting, dan didorong oleh penghasilan. Siapa pun yang memberikan penghasilan yang cepat akan dipromosi.”
 
(Sumber: W. Zellner, ”Jeff Skilling: Enron’s Missing Man,” Business Week, 11 Februari 2002, hal. 38-40; dan J.A. Byrne, “The Environment Was Ripe for Abuse,” Business Week, 25 Februari 2002, hal.118-120.)
 
- Johnson & Johnson. Perusahaan ini memiliki budaya kuat menekankan kewajiban perusahaan kepada pelanggan, karyawan, masyarakat dan pemegang saham. Ketika Tylenol beracun (sebagai produk Johnson & Johnson) ditemukan pada rak-rak took, karyawan Johnson & Johnson di seluruh Amerika menarik produk-produk tersebut secara independent, sebelum manajemen mengeluarkan pernyataan menyangkut perubahan buruk produk tersebut. Tak ada yang harus memberitahu orang-orang ini apa yang benar secara moral. Mereka tahu apa yang mesti diharapkan perusahaan untuk mereka lakukan.
 
Etika dan moral dalam perusahaan perlu didukung dengan budaya organisasinya. Budaya organisasi yang paling mungkin membentuk standar etis tinggi adalah budaya yang tinggi dalam mentolerir resiko, mempunyai keagresifan rendah sampai sedang, berfokus cara dan hasil. Para manajer perusahaan dengan budaya seperti iti didukung untuk mengambil resiko dalam melakukan inovasi, ikut melibatkan diri dalam persaingan yang terkendali dan memberikan perhatian pada ’bagaimana’ caranya mencapai sasaran dan sasaran ’apa’ yang mau dicapai.
 
Budaya organsisasi etis akan cenderung membentuk budaya yang disebut ’kuat’. Kebalikannya, budaya organisasi yang inetis akan cenderung membantuk budaya yang disebut ’lemah’. Budaya yang ’kuat’ ternyata akan berpengaruh lebih besar terhadap karyawan dibandingkan dengan budaya yang ’lemah’.
Kemudian, bagaimana caranya membentuk budaya yang kuat (etis)? Sejumlah pakar menyebutkan beberapa jalan, yaitu:
 
- Jadilah Model Peran yang Nyata. Karyawan akan melihat model perilaku eksekutif puncak sebagai tolok ukur merancang perilaku yang tepat. Jika pimpinan memberikan contoh perilaku etis, ia akan menebar pesan kuat dan positif kepada karyawannya.
 
- Buatlah Kode Etik dalam Bekerja. Hal-hal ambigu dalam hal etis kerja dapat diminimalkan jika perusahaan mempunyai kode etik bekerja atau semacam ’code of conduct’, yang menetapkan nilai-nilai utama organisasi dan kaidah etis yang diharapkan untuk diikuti karyawan.
 
- Buatlah Pelatihan Etika. Adakan seminar, pelatihan program atau lokakarya tentang etika dalam dunia kerja. Gunakan sesi ini untuk mendorong standar perilaku organisasi; untuk mengklarifikasikan apa yang boleh dan tidak boleh dan membahas kasus dilema etis yang sering muncul dalam keseharian.
 
- Berikan Reward and Punishment dalam hal etika. Berikan reward bagi pencapaian kerja yang sesuai dengan standar etis perusahaan. Sementara, jatuhkan sanksi bagi tindakan kerja yang tidak etis, dan sanksi atau hukuman tersebut harus dilakukan secara kasat mata.
 
- Sediakan Perlindungan Etis. Biasanya, orang-orang yang membahas dilema etis atau orang yang melaporkan tindakan inetis yang terjadi takut mendapatkan tindakan balasan yang tak menyenangkan. Mulai dari intimidasi teman kerja, departemen atau divisi lain, teguran pimpinan yang menyakitkan, sampai ancaman eksistensi jabatan mereka di perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan perlu menyediakan perlindungan bagi orang-orang baik ini, sehingga mereka dapat ikut menjadi penjaga etika kerja dalam perusahaan.
 
Jadi, jelaslah bahwa memang perlu tindakan nyata dalam membentuk standar etis dalam bekerja. Termasuk, dengan model pelatihan/seminar seperti dicantumkan dalam poin ketiga di atas. Namun sayangnya, pelatihan etika termasuk pelatihan yang paling sedikit ada, sangat kalah jauh dengan seminar atau pelatihan yang ditujukan untuk mencetak profit, seperti pelatihan menjual, meningkatkan kemampuan hypnosis, atau strategi marketing.
 
Mungkin, kesan alam bawah sadar yang tertancap kuat dalam benak para eksekutif adalah: Materi etika memang akan membantu membuat pengertian budi luhur, tetapi akan menghambat pencapaian kinerja, inovasi dan terobosan berani dalam bisnis. Bahkan, memang materi etika memang akan berbenturan dengan kenyataan sehari-hari dunia bisnis yang masih dipenuhi dengan praktek-praktek yang kurang etis. Suap, meminta komisi yang tidak benar, menyerobot ide orang lain, fitnah, membuat inner circle kuat, tender yang tidak transparan adalah bentuk-bentuk bisnis yang tampaknya masih banyak terjadi di negeri ini.
Padahal, krisis global telah menyatakan pesan dengan jelas. Bisnis tak bisa lagi mengabaikan etika, mengabaikan hal-hal etis. Bisa, tapi membuat bisnis berjalan tidak langgeng dalam jangka panjang dan akhirnya akan menghancurkan banyak orang. Dan akhirnya, masalah etika persis ketika kita merasa tidak nyaman menonton pertandingan sepak bola, yang diwarnai dengan banyak aksi-aksi tidak sopan, brutal dan kacau, jika tidak ada konsep fair play-nya....
 
Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM
Direktur Pendidikan
KPPSM F.X. Oerip S. Poerwopoespito
Wisma KPPSM
Cibubur Indah III Blok F-7 Jaktim 13720
T: 021-8716968, F: 021-8719981
HP/WhatsApp: 0818-874430
Website: www.kppsm.com
Twitter: @tatagkppsm
e: tatag@kppsm.com
Facebook: Pengembangan Sikap Mental Positif

Blog, Updated at: 00.54

0 komentar:

Posting Komentar