BONSAI JERUK KINGKIT BERUMUR LEBIH DARI 300 TAHUN

Posted by Sikap Mental Positif on Senin, 03 November 2014


Sekitar abad ke 17, di Tiongkok ada seorang raja bernama BONG KHIUNG FU, yang berkuasa di daerah dekat Tibet. Ia memerintah dengan bengis, kikir dan culas. Kekurangannya ini terungkap dalam insiden THAI NAN BAN FA LEU atau insiden HOTEL SERIBU BUNGA dalam peristiwa tersebut kaisar KHIAN LUNG bentrok hebat dengan anak angkat raja Bong yang bernama COK HIN. Akibatnya kaisar marah sekali terhadap raja Bong. Lalu Ia berusaha menjebak raja Bong dalam suatu pesta besar. Tetapi penasihat sekaligus peramal raja Bong yang bernama CHI FUNG melihat gelagat yang kurang baik ini, maka ia menyarankan yang berangkat ke pesta adalah COK HIN anak angkat raja Bong.
                Betul juga ramalan tersebut. Setibanya di ibu kota, COK HIN ditangkap dan dihukum pancung pada tanggal 14 bulan satu imlek, sehari sebelum kaisar merayakan CAP GO ME. Karena Raja Bong tidak datang maka Kaisar Khian Lung marah besar. Maka dia memerintahkan untuk menangkap raja Bong hidup atau mati.

Rupanya raja Bong mengetahui rencana tersebut. Maka sebelum utusan kaisar sampai ia melarikan diri beserta anak buah setianya, dan anak perempuan satu-satunya Bong Li Li, dengan menggunakan 3 buah kapal layar besar dan 3 buah kapal layar kecil, ke arah selatan. Mereka mampir di Taiwan, Muangtai dan Malaya dan berakhir di pelabuhan KARANG LINTANG di hulu sungai KUTOPANJI, Belinyu, Bangka. Peristiwa ini terjadi pada th 1675. Pada waktu itu Bangka di bawah kekuasaan Sultan Machmud Badarudin dan atas ijin beliau, Raja Bong diperbolehkan tinggal dan mendirikan benteng. Benteng tersebut panjangnya sekitar 75M, lebar 55M tinggi 4M dikerjakan selama 149 minggu. Bangunan tersebut terdiri dari 9 buah ruangan dan 18 sumur. Pintu gerbangnya menghadap timur laut. tersebut pernah dipugar oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 3 Desember 1973. Oleh penduduk setempat, raja Bong disapa dengan Kapten Bong atau Bongkap. Ia membuka kebon lada dan tambang timah, hingga ia kaya raya.
               
Suatu saat, pada waktu Bongkap ke Malaya untuk menjual timah dan lada, datanglah perompak dari Filipina menjarah bentengnya, memperkosa dan membunuh Bong Li Li kemudian memasukan mayatnya ke sumur. Sepulangnya dari Malaya, Bongkap melihat bentengnya porak poranda, isinya ludes dan puterinya meninggal ia teramat sedih, menjadi pemurung kemudian sakit-sakitan yang akhirnya meninggal pada tahun 1687. Makam Bongkap dipugar oleh tim yang terdiri dari Lettu Polisi Djamino WR, Bong Thian Fo, Khu Kun Sin, Tjhin Kui Khian, Tjong Thiam Siu, Lie Kon Tet, dan BFB. Peninggalan Bongkap disamping reruntuhan benteng adalah klenteng Liong San Phek Kung Miauw yang telah mengalami pemugaran pada sekitar th 1900 oleh seorang isteri kepala parit (pengusaha tambang timah). Cerita tersebut di atas diceritakan kembali oleh Bapak Cong Kon  Fo, penjaga klenteng Liong San Phek Kung Miauw.

Dalam pelariannya, raja Bong beserta pengikutnya membawa buah jeruk kingkit dalam jumlah besar. Gunanya untuk mencegah maupun mengobati orang yang mabuk laut. Setibanya di Belinyu, sisa buah jeruk kingkit di tanam. Oleh karena itu belinyu pernah menjadi ladang jeruk kingkit. Salah satu diantaranya mampu bertahan selama 5 generasi, seperti tertera dalam gambar. Hal ini diutarakan oleh pemiliknya yaitu Bapak A-Siok, seorang pendekar Kung Fu di Belinyu yang jari-jari tangannya papak (tinggal separo). Jeruk kingkit tersebut dibeli oleh Bapak John, seorang kolektor bonsai yang berasal dari Bugis, yang tinggal di Pangkal Pinang. Sebenarnya cucu A Siok tidak setuju, karena jeruk kingkit tersebut warisan leluhur mereka. Tetapi entah mengapa Pak A Siok jatuh hati dan mereka memberikan pohon jeruk kingkit kepada Pak John.

Pada tanggal 18 November 2001, saya ceramah di depan karyawan perkebunan kelapa sawit, PT.Sawindo Kencana, di desa Tempilang, Sungailiat, Bangka. Esok paginya saya menginap di wisma Jaya II di Pangkal Pinang. Untuk mengisi waktu saya ingin melihat-lihat bonsai di Pankal Pinang sebagai proses belajar. Perlu diketahui saya mulai memelihara bonsai pada bulan Mei 2001. Jadi saya betul-betul pemula dibidang bonsai. Maka saya bertanya pada resepsionis apakah ia mengenal seseorang yang punya hobi bonsai. Pucuk dicinta ulam tiba, ternyata ia mengenal seseorang yang bekerja di Pemda Banka yang punya hobi bonsai, Pak Eddy namanya. Kebetulan setelah dikontak, Pak Eddy mau menemani saya keliling kota Pankal Pinang menemui rekan-rekan penggemar bonsai. Ternyata banyak penggemar bonsai di Pangkal Pinang maka untuk menemui mereka tidak cukup sehari. Esok harinya mulai lagi keliling Pangkal Pinang dan akhirnya ketemu dengan Pak John yang memiliki bonsai Jeruk Kingkit yang berasal dari A Siok. Saya sama sekali belum paham mengenai bonsai maka hanya intuisi saya saja yang berbicara. Saya konsultasi dengan teman-teman di Cibubur tetapi mereka tidak bisa merekomendasi karena tidak melihat barangnya.

Lama sekali saya berpikir dan bernegosiasi dengan Pak John yang juga berpikir keras mau melepas bonsainya atau tidak. Akhirnya tepat pukul 24.00 hari Sabtu tanggal 20 November 2001, terjadilah persesuaian harga untuk dua buah bonsai Jeruk Kingkit. Karena tidak siap “berburu bonsai” maka sebagai tanda jadi hanya beberapa ribu rupiah.  Sisanya kami lunasi pada hari Senin, setelah mendapat transfer dari Jakarta. Tanpa saya kurangi ranting-rantingnya, dua pohon jeruk kingkit saya kirim ke Jakarta lewat expedisi dengan menyewa 1 buah truck khusus untuk mengangkut 2 buah bonsai jeruk kingkit. Tanggal 25 November, dua buah bonsai jeruk kingkit yang salah satu diantaranya bersejarah dan berumur sekitar 330 tahun tersebut sampai di Jakarta dengan selamat sampai sekarang.

Blog, Updated at: 18.50

0 komentar:

Posting Komentar